Kulihat semangat hidupmu memudar - kuhanya bisa terdiam.
Guci yang kau lempar membentur dinding tepat di samping kepalaku. Tatapku nanar melihat aksimu liar - sosok terkasihku hilang.
Ya, jiwanya hilang seiring jiwaku yang pergi meninggalkan tubuh mayaku.
Aku telah mati (kupertegas itu) dan aku terperangkap di dunia ini. Kenapa, Tuhan? Kau ingin aku pergi bersama pria tersayangku? Atau, Kau ingin aku menderita - melihat ia menggila atas kehilangan diriku?
"Lihat aku, Aadhira. Aku di depanmu." Suaraku parau - lelah berteriak padanya untuk menyadariku. "Adhisti masih disini, Adhisti masih bersamamu." Air mata segar mengalir di pipiku - menutupi jejak leluhurnya yang telah mengering.
Namun, sang rembulan tidak ada apa-apanya tanpa sang mentari.
Sabtu, 05 November 2016
Rabu, 19 Oktober 2016
24 jam
Sehari 24 jam, bayangkan jika sehari lebih dari 24 jam
Hei, kau yang disana.
Bayangkan, sehari lebih dari 24 jam
Mungkin, aku bisa beristirahat lebih tenang
Mungkin, aku bisa lebih menghabiskan waktu denganmu
Mungkin, waktu yang kuhabiskan denganmu tidak dipenuhi dengan amarahku
Mungkin, argumen kelelahan kita akan berkurang (atau bahkan tidak ada teriakan keras diantara kita)
Mungkin, kita akan lebih damai (ya, kau dan aku)
Mungkin, aku akan lebih merasakan arti 'aku sayang padamu'?
Mungkin...
Hei, kau yang disana.
Bayangkan, sehari lebih dari 24 jam
Mungkin, aku bisa beristirahat lebih tenang
Mungkin, aku bisa lebih menghabiskan waktu denganmu
Mungkin, waktu yang kuhabiskan denganmu tidak dipenuhi dengan amarahku
Mungkin, argumen kelelahan kita akan berkurang (atau bahkan tidak ada teriakan keras diantara kita)
Mungkin, kita akan lebih damai (ya, kau dan aku)
Mungkin, aku akan lebih merasakan arti 'aku sayang padamu'?
Mungkin...
Selasa, 11 Oktober 2016
Hidup dan Mati
Banyak hal penting yang seharusnya saya kerjakan, tapi saya tidak bisa menghentikan hasrat saya untuk mengetik entri ini. Wahai teman-teman saya di dunia nyata, bersabarlah dengan kelakuan kawanmu yang tidak benar ini.
Bisa dilihat dari judulnya, saya ingin membahas soal hidup dan mati. Sensitif, tapi kenapa tidak?
Akhir-akhir ini saya sering mendapat kabar duka dari sekitar saya. Tua muda. Sakit sehat. Yang tidak terduga. Saya juga tidak lupa melihat kesedihan mereka, mendengarkan curhatan kesedihan mereka. Mereka tidak percaya bahwa orang terkasihnya pergi begitu cepat.
Ah, mendadak saya jadi ingat waktu itu. Saya masih kelas lima sekolah dasar kalau tidak salah.
Ya, saya pernah merasakan apa yang mereka rasakan. Pulang sekolah, saya dikejutkan dengan kabar duka yang disampaikan lewat telepon. Orang terkasih saya, panutan saya, kalah dengan perangnya melawan sebuah penyakit ganas.
Oh, tentu saja saya syok - bukan main bahkan.
Padahal, baru dua hari lalu saya menjenguk beliau di sebuah ruang ICU. Saya melihat nanar rambut beliau yang makin lama makin menipis, bibirnya yang memucat mendekati putih tulang. Berbagai selang melekat pada kulit beliau.
Saya percaya, saya percaya, bahwa setidaknya beliau bisa melihat saya menjadi dokter, setidaknya saya masuk sekolah menengah pertama pun cukup. Tapi tidak, saya kehilangan seseorang yang saya ingin sekali melihat saya bahagia, karena saya ingin beliau bahagia karena saya.
Ketika saya melihat wajahnya di perbaringan terakhir, lutut saya lemas. Lidah kelu. Gravitasi mendadak menjadi sepuluh, seratus, bahkan seribu kali lebih kuat. Saya duduk terjatuh. Kepala saya pening.
Sosok itu tidak akan lagi memanggil saya ramah. Sosoknya tidak akan lagi memeluk saya dikala saya ada di sampingnya.
Ketika saya memandikan sosok beliau, ketika saya menyentuh kulit beliau setelah sekian lamanya, saya tidak bisa merasakan hangat beliau. Kulit saya seakan memegang besi. Semua orang di sekeliling saya menangis. Saya melihat sosok tegar kakak saya menangis.
Tidak, saya tidak bisa menahan air mata.
Pikiran saya kala itu berkelana jauh. Masa kecil, masa kehangatan, semuanya. Saya menganggap, bahwa saya tidak akan merasakan kesedihan akan kehilangan seseorang. Saya kira, saya akan melihat senyuman beliau sampai saya di saat ini. Saya sudah kuliah, saya ingin membanggakan beliau.
SAYA TERLALU NAIF, DAN SAYA MENGALAMI DERITA KENAIFAN SAYA.
...Intinya, hidup mati. Rahasia terbesar. Sensitif. Percaya atau tidak, saya harus menahan air mata saya untuk jatuh saat ini. Sampai sekarang, saya masih merasakan trauma ketika mendengar kata ICU, kanker, dan saya merasa merinding ketika memasuki kawasan rumah sakit.
Kenangan itu, semuanya kembali merasuki saya.
Hidup dan mati - betapa kuatnya mereka dalam mengubah seseorang.
Kehilangan.
Sabtu, 08 Oktober 2016
Nasihat
Suatu kali, saya mengeluh pada kakak saya.
"Mas, tinta hitam printernya habis ya? Kok enggak diisi, sih? Aku kan mau nge-copy bukti pembayaran."
Kakak saya hanya menatap saya sejenak, lalu ia teruskan makannya yang tertunda. Jelas, raut muka saya makin suntuk. Sebelum saya kembali protes, kakak saya mengatakan, "Kamu tuh ya, ada dua printer kan di kamarku. Pakelah satu printer yang bisa buat nge-scan terus scan bukti pembayarannya. Nah, print deh scanannya pake printer satunya lagi - yang ada tintanya. Edit jadi hitam putih. Beres kan?"
Saya hanya bisa melongo. Kakak saya kembali menatap saya, lalu tersenyum mengejek. "Kamu tuh ya, udah mahasiswa. Pola pikirmu tuh harus kreatif. Kalau terus berpikir inside the box, apa bedanya kamu sama pembantu? Otakmu -" Ia mengetuk kepalanya. "- dipake buat mikir. Ngerti?"
Memang menyebalkan, tapi terima kasih nasihatnya, mas.
Oh iya, saya mohon cepat selesaikan tesis mas. Mas kan sudah mahasiswa S2, kok masih merepotkan mama?
(Senyum mengejek)
Jumat, 07 Oktober 2016
untitled
Pikiranku meracau. Aku menggila.
Hentikan, kubilang hentikan. Olokanmu. Gunjinganmu.
Potong lidahmu, kumohon.
Pergi kau, setan! Biarkan jiwaku hidup secara semestinya.
Diam, diam, DIAM.
Apa perlu, kupotong telingaku? Kusirami gendang telingaku dengan cairan sulfat?
Perlu, kubakar otakku dalam api terpanas?
Pergi, menghilang - entahlah.
Aku hanya ingin tentram. Jiwaku hanya ingin kesempurnaan.
Hentikan, kubilang hentikan. Olokanmu. Gunjinganmu.
Potong lidahmu, kumohon.
Pergi kau, setan! Biarkan jiwaku hidup secara semestinya.
Diam, diam, DIAM.
Apa perlu, kupotong telingaku? Kusirami gendang telingaku dengan cairan sulfat?
Perlu, kubakar otakku dalam api terpanas?
Pergi, menghilang - entahlah.
Aku hanya ingin tentram. Jiwaku hanya ingin kesempurnaan.
Senin, 03 Oktober 2016
Besok
Halo, bersama saya lagi di entri baru blog saya yang sangat tidak jelas ini. Seharusnya saya tidur sekarang, tapi pernah dengar kondisi dimana orang menjadi tidak mengantuk lagi setelah sampai di tempat yang nyaman? Kalau tidak, biar saya beritahu - saya termasuk orang yang seperti itu.
Hari ini adalah hari Senin, tanggal 3 Oktober tahun 2016. Besok adalah tanggal 4 Oktober 2016.
Jujur, saya ingin pulang kembali ke Jakarta, walaupun hanya sehari.
Pada tanggal yang sama tahun 1959, seorang bayi berjenis kelamin perempuan lahir dari pasangan suami-istri yang bercukupan. Bayi ini hidup dengan penuh pengalaman yang luar biasa. Dididik oleh ibu dengan profesi bidan, bayi ini tumbuh menjadi seorang gadis yang diharapkan dapat menjadi wanita yang berpendidikan tinggi.
Pada tahun ini, wanita ini akan merayakan hidupnya yang telah berlangsung selama 57 tahun. Beliau kini memiliki tiga anak yang sangat disayanginya - seorang lelaki dengan kepandaian yang luar biasa, seorang lelaki dengan kesabaran dan kedewasaan yang mengetarkan jiwa, dan seorang gadis yang kini belajar untuk mandiri.
Ya, wanita itu adalah ibu saya.
Saya merasa sedih karena saya tidak bisa bersama dengan beliau di hari yang menggembirakan di esok hari. Saya tidak mengerti perasaan ibu saya - apakah ibu saya merindukan saya dan menginginkan saya bersamanya pada esok hari, tapi yang saya ketahui adalah saya rindu ibu saya dan saya ingin memeluk ibu saya sembari mengucapkan selamat ulang tahun.
Sayang, saya tidak bisa teleportasi.
Baiklah, demikian kegalauan saya. Dalam waktu kurang lebih enam jam lagi, saya ingin terbangun untuk mengirimkan setidaknya sebuah pesan suara untuk ibu saya. Mungkin sebuah lantunan nada bisa membuat pagi beliau menjadi lebih cerah? Saya harap begitu.
Saya harap sisa hari Anda berjalan dengan menyenangkan. Smiley face.
Tertanda,
Saya yang mengetik entri ini.
Hari ini adalah hari Senin, tanggal 3 Oktober tahun 2016. Besok adalah tanggal 4 Oktober 2016.
Jujur, saya ingin pulang kembali ke Jakarta, walaupun hanya sehari.
Pada tanggal yang sama tahun 1959, seorang bayi berjenis kelamin perempuan lahir dari pasangan suami-istri yang bercukupan. Bayi ini hidup dengan penuh pengalaman yang luar biasa. Dididik oleh ibu dengan profesi bidan, bayi ini tumbuh menjadi seorang gadis yang diharapkan dapat menjadi wanita yang berpendidikan tinggi.
Pada tahun ini, wanita ini akan merayakan hidupnya yang telah berlangsung selama 57 tahun. Beliau kini memiliki tiga anak yang sangat disayanginya - seorang lelaki dengan kepandaian yang luar biasa, seorang lelaki dengan kesabaran dan kedewasaan yang mengetarkan jiwa, dan seorang gadis yang kini belajar untuk mandiri.
Ya, wanita itu adalah ibu saya.
Saya merasa sedih karena saya tidak bisa bersama dengan beliau di hari yang menggembirakan di esok hari. Saya tidak mengerti perasaan ibu saya - apakah ibu saya merindukan saya dan menginginkan saya bersamanya pada esok hari, tapi yang saya ketahui adalah saya rindu ibu saya dan saya ingin memeluk ibu saya sembari mengucapkan selamat ulang tahun.
Sayang, saya tidak bisa teleportasi.
Baiklah, demikian kegalauan saya. Dalam waktu kurang lebih enam jam lagi, saya ingin terbangun untuk mengirimkan setidaknya sebuah pesan suara untuk ibu saya. Mungkin sebuah lantunan nada bisa membuat pagi beliau menjadi lebih cerah? Saya harap begitu.
Saya harap sisa hari Anda berjalan dengan menyenangkan. Smiley face.
Tertanda,
Saya yang mengetik entri ini.
Sabtu, 01 Oktober 2016
Simak
Tolong, buka baik-baik telingamu.
Kau tahu, gadis itu - iya, dia yang pendiam. Ia punya banyak hal yang ingin ia bicarakan. Imajinasinya, masa lalunya, asanya, bahkan tentang dirinya sekarang. Penderitaannya yang selalu tidak dianggap.
Tolong, berhentilah bicaramu untuk sementara.
Gadis itu senang sekali mendengar kisahmu, tapi ia juga punya opini, saran, dan topik yang lebih penting dari keluhanmu. Komunikasi itu dua arah, dan dia bukan hanya patung yang hanya diam saja.
Tolong, letakkan ponselmu sejenak.
Kau tahu, gadis itu sengaja meletakkan ponselnya di dalam tas - ia peduli, ia ingin mendengarkan kisahmu. Ia ada untukmu, seharusnya kau juga begitu.
Tolong, anggap dia ada. Anggap dia sebagai manusia.
Berikan rasa pedulimu.
Perhatikan muka lembamnya.
Perhatikan mata kosongnya.
Sebelum sebilah pisau mengecup manis nadinya.
Kau tahu, gadis itu - iya, dia yang pendiam. Ia punya banyak hal yang ingin ia bicarakan. Imajinasinya, masa lalunya, asanya, bahkan tentang dirinya sekarang. Penderitaannya yang selalu tidak dianggap.
Tolong, berhentilah bicaramu untuk sementara.
Gadis itu senang sekali mendengar kisahmu, tapi ia juga punya opini, saran, dan topik yang lebih penting dari keluhanmu. Komunikasi itu dua arah, dan dia bukan hanya patung yang hanya diam saja.
Tolong, letakkan ponselmu sejenak.
Kau tahu, gadis itu sengaja meletakkan ponselnya di dalam tas - ia peduli, ia ingin mendengarkan kisahmu. Ia ada untukmu, seharusnya kau juga begitu.
Tolong, anggap dia ada. Anggap dia sebagai manusia.
Berikan rasa pedulimu.
Perhatikan muka lembamnya.
Perhatikan mata kosongnya.
Sebelum sebilah pisau mengecup manis nadinya.
Minggu, 21 Agustus 2016
Realita
Halo kalian semua yang masih membaca blog ini. Saya meragukan sih, ada yang mau baca apa yang saya ketik ini. Tapi ya sudahlah ya.
Saat ini saya sudah resmi menetap di Semarang. Saya sudah menjalani apa yang seharusnya dijalani seorang mahasiswa baru. Bahkan, saya sudah memulai kuliah saya. Memang sih, baru sekadar materi mengenai etika dasar dan sebagainya, tapi tugasnya itu lho.
Tubuh saat tidak bisa mengikuti semuanya dengan baik.
Saya sangat beruntung ibu saya datang menemui saya kemarin Jumat. Tubuh saya drop total saat Jumat malam, jadi beruntung sekali beliau hadir untuk menemani saya. Sabtu pagi saya merasa baikan, tetapi setelah kuliah pengganti pada hari itu badan saya mulai berulah.
Ibu saya khawatir, maka saya dibawa ke rumah sakit pendidikan milik kampus saya. Karena hari itu hari Sabtu, saya dianjurkan untuk berobat di unit gawat darurat lantaran praktek dokter umum hari Sabtu tidak buka. Setelah pendaftaran, saya pun diminta untuk berbaring. Seorang perawat memeriksa kondisi saya - bertanya-tanya kondisi saya sebelumnya, mengecek tensi, dan mengecek suhu badan saya. Setelah itu, saya ditinggal untuk beberapa saat. Saat kondisi saya yang demam, saya mendengar sayup-sayup keramaian dibalik tirai ruang pemeriksaan.
Setelah dokter datang dan memeriksa saya, akhirnya saya diperbolehkan untuk keluar. Ketika saya duduk di bangku yang tersedia, saya melihat sebuah tirai menutupi tempat tidur pemeriksaan. Tidak hanya itu, saya juga mendengar suara jeritan di luar ruang unit gawat darurat. Menunggu ibu saya yang tengah berbicara dengan dokter, saya melihat seorang perawat sedang memantau hasil CT Scan dari kepala seseorang.
Ah, sepertinya...
Sebuah ambulans terparkir di depan gedung unit gawat darurat. Suara tangisan. Raut muka sang dokter yang entah tidak tahu harus berbuat apa.
Sesampai di tempat menetap saya, saya tidak bisa tenang. Saya terus bertanya kepada ibu saya. Kenapa? Bagaimana? Apa yang baru saja mereka katakan?
Ibu saya tidak berkata banyak, yang pasti ibu saya hanya bisa berkata satu hal yang pasti,
"Itu nanti akan jadi masa depanmu, mentalmu harus kuat ya nak."
Ternyata, beban saya saat ini tidak seberapa jika dibandingkan beban saya ketika saya sudah menjadi...
Saat ini saya sudah resmi menetap di Semarang. Saya sudah menjalani apa yang seharusnya dijalani seorang mahasiswa baru. Bahkan, saya sudah memulai kuliah saya. Memang sih, baru sekadar materi mengenai etika dasar dan sebagainya, tapi tugasnya itu lho.
Tubuh saat tidak bisa mengikuti semuanya dengan baik.
Saya sangat beruntung ibu saya datang menemui saya kemarin Jumat. Tubuh saya drop total saat Jumat malam, jadi beruntung sekali beliau hadir untuk menemani saya. Sabtu pagi saya merasa baikan, tetapi setelah kuliah pengganti pada hari itu badan saya mulai berulah.
Ibu saya khawatir, maka saya dibawa ke rumah sakit pendidikan milik kampus saya. Karena hari itu hari Sabtu, saya dianjurkan untuk berobat di unit gawat darurat lantaran praktek dokter umum hari Sabtu tidak buka. Setelah pendaftaran, saya pun diminta untuk berbaring. Seorang perawat memeriksa kondisi saya - bertanya-tanya kondisi saya sebelumnya, mengecek tensi, dan mengecek suhu badan saya. Setelah itu, saya ditinggal untuk beberapa saat. Saat kondisi saya yang demam, saya mendengar sayup-sayup keramaian dibalik tirai ruang pemeriksaan.
Setelah dokter datang dan memeriksa saya, akhirnya saya diperbolehkan untuk keluar. Ketika saya duduk di bangku yang tersedia, saya melihat sebuah tirai menutupi tempat tidur pemeriksaan. Tidak hanya itu, saya juga mendengar suara jeritan di luar ruang unit gawat darurat. Menunggu ibu saya yang tengah berbicara dengan dokter, saya melihat seorang perawat sedang memantau hasil CT Scan dari kepala seseorang.
Ah, sepertinya...
Sebuah ambulans terparkir di depan gedung unit gawat darurat. Suara tangisan. Raut muka sang dokter yang entah tidak tahu harus berbuat apa.
Sesampai di tempat menetap saya, saya tidak bisa tenang. Saya terus bertanya kepada ibu saya. Kenapa? Bagaimana? Apa yang baru saja mereka katakan?
Ibu saya tidak berkata banyak, yang pasti ibu saya hanya bisa berkata satu hal yang pasti,
"Itu nanti akan jadi masa depanmu, mentalmu harus kuat ya nak."
Ternyata, beban saya saat ini tidak seberapa jika dibandingkan beban saya ketika saya sudah menjadi...
Jumat, 29 Juli 2016
Masa Lalu
Waktu dulu saya kecil, saya ingin menjadi polisi.
Kenapa polisi? Entahlah, mungkin di benak saya tergambar bahwa polisi itu gagah dan tampak tidak terkalahkan. Dan mungkin, saya lebih berfokus ke pistol yang akan saya miliki ketimbang dengan bahaya yang akan saya hadapi ketika benar menjadi seorang polisi.
Nenek saya adalah seorang bidan.
Metabolisme saya ketika kecil bukanlah yang terbaik. Kecapekan, pilek. Tidur malam, demam. Kehujanan, radang. Dulu ibu saya sibuk - studi S2 dan berkarier sebagai dosen, jadi saya lebih sering dirawat nenek saya ketika sakit. Alhasil, saya sering berpetualang di klinik beliau yang waktu itu berada tepat di samping rumahnya.
Jujur saja, dulu saya takut. Lorong penghubung antara rumah nenek dengan klinik selalu gelap. Di sepanjang lorong banyak sekali tirai putih yang menutupi tempat tidur pasien. Ketika melewati lorong gelap tersebut, saya langsung berhadapan dengan ruang dokter anak. Dulu, saya akan langsung menjauh melihat penampakan jarum suntik.
Saya ingin menjadi polisi dulu, bukannya dokter.
Waktu itu saya datang berkunjung ke rumah nenek bersama ibu. Setelah bersalaman dengan kakek, saya langsung pergi ke klinik mencari nenek yang saat itu tidak terlihat. Kali itu saya tidak langsung berlari melintasi lorong. Sebuah ruangan di sudutnya menyala. Ketika saya intip, ternyata bukan nenek saya yang berada di dalamnya, melainkan seorang suster. Dan ia tengah mengendong bayi.
"Saya mau mandiin bayinya, mbak mau ngebantuin?" tanya suster itu pada saya. Fokus mata saya beralih pada wajah sang suster yang tersenyum pada saya. Malu-malu, saya melangkah maju. Dengan perlahan, ia merebahkan badan mungil itu kedalam bak mandi kecil berisi air hangat. Satu tangan menjaga posisi bayi tersebut, satu lagi membawa air hangat untuk membasahi badan bayinya. Perlahan saya tiru gerakan sang suster. Jemari saya bersentuhan dengan kulit bayi tersebut.
Ketika saya melewati ruang dokter anak, saya mendapati nenek saya tengah berbicara dengan keluarga pasien. Senyum beliau merekah ketika melihat saya. Ketika saya bersalaman dengan nenek saya, beliau berkata, "Ini cucu saya."
Saya melihat pasien yang tengah berbaring di tempat tidur. Mukanya lelah, namun ia tetap tersenyum. Semuanya tersenyum.
Nenekku membawa banyak senyuman ke orang-orang di sekelilingnya.
"Ma, aku ingin menjadi dokter kandungan!"
Rabu, 27 Juli 2016
Cerita Hidup
Saya berumur 18 tahun. Saya lahir pada tahun 1998. Tahun ini saya mulai berkuliah di sebuah universitas di Jawa Tengah, Saya merupakan orang yang terbuang dari rombongan saya - mayoritas mereka kuliah di Jakarta atau Bandung, saya di Semarang. Tapi tenang, saya tidak sedih. Setidaknya orang yang sedang nyengir disamping saya ini berkuliah dekat dengan saya, di Solo.
Banyak orang bertanya, kenapa sekolah harus jauh-jauh dari rumah sendiri? Kenapa gak di Jakarta. Well, gini, SNMPTN dan SBMPTN itu gak semudah yang orang pikir. Lihat aja soal TPA dan Matematika Dasar SBMPTN tahun ini. Siapa yang senang dan menangis bahagia saat melihat mereka? Yang pasti bukan saya orangnya. Dan orang disebelah saya pun bukan orangnya. Jika Anda adalah orangnya, tolong tulis alamat tinggal Anda. Saya punya pisau tajam di dapur yang siap bertemu dengan senyum Anda.
Bulan ini saya akan berangkat ke Semarang. Merantau. Nge-kost. Sedih. Kere.
Doakan saya dan orang yang disebelah saya ini. Dan saya akan mengingat untuk mendoakan Anda yang juga merantau.
Oke, itu saja yang bisa saya ketik. Semoga hari Anda menyenangkan.
Tertanda,
Saya yang mengetik entri ini.
Banyak orang bertanya, kenapa sekolah harus jauh-jauh dari rumah sendiri? Kenapa gak di Jakarta. Well, gini, SNMPTN dan SBMPTN itu gak semudah yang orang pikir. Lihat aja soal TPA dan Matematika Dasar SBMPTN tahun ini. Siapa yang senang dan menangis bahagia saat melihat mereka? Yang pasti bukan saya orangnya. Dan orang disebelah saya pun bukan orangnya. Jika Anda adalah orangnya, tolong tulis alamat tinggal Anda. Saya punya pisau tajam di dapur yang siap bertemu dengan senyum Anda.
Bulan ini saya akan berangkat ke Semarang. Merantau. Nge-kost. Sedih. Kere.
Doakan saya dan orang yang disebelah saya ini. Dan saya akan mengingat untuk mendoakan Anda yang juga merantau.
Oke, itu saja yang bisa saya ketik. Semoga hari Anda menyenangkan.
Tertanda,
Saya yang mengetik entri ini.
meh 1
Halo, ini adalah pertama kalinya saya membuka blog -- lebih tepatnya buat blog lagi.
Jadi, kalian semua tahulah dulu kita (ya, kita) pernah alay. Tahun 2011 silam, saya punya blog. Dan saat itu saya merupakan contoh alay yang sangat akurat. Saya tidak mau membuka halaman memalukan itu, jadi saya buat blog baru. Yeay.
So, what will I do with this new blog that I have? Well, saya gak tahu. Tapi, karena saya suka menulis sesuatu yang super tidak jelas, mungkin akan saya publish beberapa cerita aneh saya disini. Mari kita pertegas kalimat diatas pada kata 'mungkin'.
Senang bertemu dengan kalian semua. Jangan nantikan saya.
Tertanda,
Saya yang mengetik entri ini.
Jadi, kalian semua tahulah dulu kita (ya, kita) pernah alay. Tahun 2011 silam, saya punya blog. Dan saat itu saya merupakan contoh alay yang sangat akurat. Saya tidak mau membuka halaman memalukan itu, jadi saya buat blog baru. Yeay.
So, what will I do with this new blog that I have? Well, saya gak tahu. Tapi, karena saya suka menulis sesuatu yang super tidak jelas, mungkin akan saya publish beberapa cerita aneh saya disini. Mari kita pertegas kalimat diatas pada kata 'mungkin'.
Senang bertemu dengan kalian semua. Jangan nantikan saya.
Tertanda,
Saya yang mengetik entri ini.
Langganan:
Komentar (Atom)