Selasa, 11 Oktober 2016

Hidup dan Mati

Banyak hal penting yang seharusnya saya kerjakan, tapi saya tidak bisa menghentikan hasrat saya untuk mengetik entri ini. Wahai teman-teman saya di dunia nyata, bersabarlah dengan kelakuan kawanmu yang tidak benar ini.

Bisa dilihat dari judulnya, saya ingin membahas soal hidup dan mati. Sensitif, tapi kenapa tidak?

Akhir-akhir ini saya sering mendapat kabar duka dari sekitar saya. Tua muda. Sakit sehat. Yang tidak terduga. Saya juga tidak lupa melihat kesedihan mereka, mendengarkan curhatan kesedihan mereka. Mereka tidak percaya bahwa orang terkasihnya pergi begitu cepat.

Ah, mendadak saya jadi ingat waktu itu. Saya masih kelas lima sekolah dasar kalau tidak salah.

Ya, saya pernah merasakan apa yang mereka rasakan. Pulang sekolah, saya dikejutkan dengan kabar duka yang disampaikan lewat telepon. Orang terkasih saya, panutan saya, kalah dengan perangnya melawan sebuah penyakit ganas.

Oh, tentu saja saya syok - bukan main bahkan.

Padahal, baru dua hari lalu saya menjenguk beliau di sebuah ruang ICU. Saya melihat nanar rambut beliau yang makin lama makin menipis, bibirnya yang memucat mendekati putih tulang. Berbagai selang melekat pada kulit beliau.

Saya percaya, saya percaya, bahwa setidaknya beliau bisa melihat saya menjadi dokter, setidaknya saya masuk sekolah menengah pertama pun cukup. Tapi tidak, saya kehilangan seseorang yang saya ingin sekali melihat saya bahagia, karena saya ingin beliau bahagia karena saya.

Ketika saya melihat wajahnya di perbaringan terakhir, lutut saya lemas. Lidah kelu. Gravitasi mendadak menjadi sepuluh, seratus, bahkan seribu kali lebih kuat. Saya duduk terjatuh. Kepala saya pening.

Sosok itu tidak akan lagi memanggil saya ramah. Sosoknya tidak akan lagi memeluk saya dikala saya ada di sampingnya.

Ketika saya memandikan sosok beliau, ketika saya menyentuh kulit beliau setelah sekian lamanya, saya tidak bisa merasakan hangat beliau. Kulit saya seakan memegang besi. Semua orang di sekeliling saya menangis. Saya melihat sosok tegar kakak saya menangis.

Tidak, saya tidak bisa menahan air mata.

Pikiran saya kala itu berkelana jauh. Masa kecil, masa kehangatan, semuanya. Saya menganggap, bahwa saya tidak akan merasakan kesedihan akan kehilangan seseorang. Saya kira, saya akan melihat senyuman beliau sampai saya di saat ini. Saya sudah kuliah, saya ingin membanggakan beliau.

SAYA TERLALU NAIF, DAN SAYA MENGALAMI DERITA KENAIFAN SAYA.

...Intinya, hidup mati. Rahasia terbesar. Sensitif. Percaya atau tidak, saya harus menahan air mata saya untuk jatuh saat ini. Sampai sekarang, saya masih merasakan trauma ketika mendengar kata ICU, kanker, dan saya merasa merinding ketika memasuki kawasan rumah sakit.

Kenangan itu, semuanya kembali merasuki saya.

Hidup dan mati - betapa kuatnya mereka dalam mengubah seseorang.

Kehilangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar