Kenapa polisi? Entahlah, mungkin di benak saya tergambar bahwa polisi itu gagah dan tampak tidak terkalahkan. Dan mungkin, saya lebih berfokus ke pistol yang akan saya miliki ketimbang dengan bahaya yang akan saya hadapi ketika benar menjadi seorang polisi.
Nenek saya adalah seorang bidan.
Metabolisme saya ketika kecil bukanlah yang terbaik. Kecapekan, pilek. Tidur malam, demam. Kehujanan, radang. Dulu ibu saya sibuk - studi S2 dan berkarier sebagai dosen, jadi saya lebih sering dirawat nenek saya ketika sakit. Alhasil, saya sering berpetualang di klinik beliau yang waktu itu berada tepat di samping rumahnya.
Jujur saja, dulu saya takut. Lorong penghubung antara rumah nenek dengan klinik selalu gelap. Di sepanjang lorong banyak sekali tirai putih yang menutupi tempat tidur pasien. Ketika melewati lorong gelap tersebut, saya langsung berhadapan dengan ruang dokter anak. Dulu, saya akan langsung menjauh melihat penampakan jarum suntik.
Saya ingin menjadi polisi dulu, bukannya dokter.
Waktu itu saya datang berkunjung ke rumah nenek bersama ibu. Setelah bersalaman dengan kakek, saya langsung pergi ke klinik mencari nenek yang saat itu tidak terlihat. Kali itu saya tidak langsung berlari melintasi lorong. Sebuah ruangan di sudutnya menyala. Ketika saya intip, ternyata bukan nenek saya yang berada di dalamnya, melainkan seorang suster. Dan ia tengah mengendong bayi.
"Saya mau mandiin bayinya, mbak mau ngebantuin?" tanya suster itu pada saya. Fokus mata saya beralih pada wajah sang suster yang tersenyum pada saya. Malu-malu, saya melangkah maju. Dengan perlahan, ia merebahkan badan mungil itu kedalam bak mandi kecil berisi air hangat. Satu tangan menjaga posisi bayi tersebut, satu lagi membawa air hangat untuk membasahi badan bayinya. Perlahan saya tiru gerakan sang suster. Jemari saya bersentuhan dengan kulit bayi tersebut.
Ketika saya melewati ruang dokter anak, saya mendapati nenek saya tengah berbicara dengan keluarga pasien. Senyum beliau merekah ketika melihat saya. Ketika saya bersalaman dengan nenek saya, beliau berkata, "Ini cucu saya."
Saya melihat pasien yang tengah berbaring di tempat tidur. Mukanya lelah, namun ia tetap tersenyum. Semuanya tersenyum.
Nenekku membawa banyak senyuman ke orang-orang di sekelilingnya.
"Ma, aku ingin menjadi dokter kandungan!"
Ihihi kiyut
BalasHapusApa lu :v
Hapus