Jumat, 14 September 2018

renungan

Seperti setiap malam menjelang kubermimpi, pikiranku meracau. Meracau mengenai apa yang telah kulakukan selama ini.

Namun, yang paling kupikirkan saat ini adalah nyanyianku--karena semua ini akan berakhir cepat atau lambat.

Nyanyianku membawaku mengembara. 
Karena suaraku, aku berhimpun.
Karena suaraku, aku berkenalan.
Karena suaraku, aku mengenal cinta yang selama ini aku ingkari.
Karena suaraku, aku jatuh dan lelah.
Karena suaraku, aku kehilangan koneksi.
Karena suaraku, aku hilang arah.
Karena suaraku, aku membenci nyanyianku.

Namun, karena semua ini akan berakhir, aku juga berpikir bahwa aku cinta. Aku tidak ingin semua ini cepat berakhir. Apa hidupku tanpa nyanyianku?

Dan sesaat, aku menyadari bahwa diriku ini hipokrit.

Rabu, 21 Maret 2018

jatuh

Ketika aku lelah dan mengeluh, apa yang mereka lakukan?

Menatapku tidak suka,

Mengkritikku,

seakan aku tidak sama seperti mereka.

"Kalau tidak, apakah harus iya?"

Apakah itu hanya berlaku untukmu? Sebenarnya, apakah aku tidak sama denganmu?

Aku butuh pengertian, tapi tidak ada yang mengerti.





Aku menyesal telah peduli. Kenapa aku peduli?








Peduli hanya membuatmu makin terinjak, bukan?

Selasa, 23 Januari 2018

resolusi

Rabu, 24 Januari 2018 - sedikit telat untuk resolusi, but damn it all to the T, am I right?

Baiklah, resolusi. Percayakah bahwa akan kutulis, resolusiku adalah untuk melupakanmu?

Yep.

Melupakanmu. Resolusiku.

Empat belas tahun ini, aku akan akhiri di tahun baru yang bersih ini.

















Hey, resolusi biasanya muluk, tapi setidaknya ada niatan.