"Kau... tidak takut?"
Kubuka kedua mataku, seketika menyambut tatapannya. Semilir angin sejuk menyapu lembut poninya - membuatku dapat melihat jelas bola matanya yang indah. Bibir mungilnya mengatup rapat, menunggu jawabanku.
Perlukah aku menjawabnya?
"Mungkin... mungkin saja kau masih bisa selamat, kau tahu?" Gadis itu mendekat, tangan kanannya menyentuh pipiku lembut. "Kau bisa hidup, mungkin bahagia, tanpa aku." Suaranya parau, matanya berkaca-kaca.
Kuletakkan tanganku diatas tangannya, meyakinkannya.
"Aku bahagia, jika kau ada bersamaku."
Hal terakhir yang kulihat adalah senyumnya yang lembut dan setetes air mata.
"Ayo pulang."
Sinar putih membutakan pandanganku, memeluk erat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar