Rabu, 19 Oktober 2016

24 jam

Sehari 24 jam, bayangkan jika sehari lebih dari 24 jam

Hei, kau yang disana.

Bayangkan, sehari lebih dari 24 jam

Mungkin, aku bisa beristirahat lebih tenang

Mungkin, aku bisa lebih menghabiskan waktu denganmu

Mungkin, waktu yang kuhabiskan denganmu tidak dipenuhi dengan amarahku

Mungkin, argumen kelelahan kita akan berkurang (atau bahkan tidak ada teriakan keras diantara kita)

Mungkin, kita akan lebih damai (ya, kau dan aku)

Mungkin, aku akan lebih merasakan arti 'aku sayang padamu'?



Mungkin...

Selasa, 11 Oktober 2016

Hidup dan Mati

Banyak hal penting yang seharusnya saya kerjakan, tapi saya tidak bisa menghentikan hasrat saya untuk mengetik entri ini. Wahai teman-teman saya di dunia nyata, bersabarlah dengan kelakuan kawanmu yang tidak benar ini.

Bisa dilihat dari judulnya, saya ingin membahas soal hidup dan mati. Sensitif, tapi kenapa tidak?

Akhir-akhir ini saya sering mendapat kabar duka dari sekitar saya. Tua muda. Sakit sehat. Yang tidak terduga. Saya juga tidak lupa melihat kesedihan mereka, mendengarkan curhatan kesedihan mereka. Mereka tidak percaya bahwa orang terkasihnya pergi begitu cepat.

Ah, mendadak saya jadi ingat waktu itu. Saya masih kelas lima sekolah dasar kalau tidak salah.

Ya, saya pernah merasakan apa yang mereka rasakan. Pulang sekolah, saya dikejutkan dengan kabar duka yang disampaikan lewat telepon. Orang terkasih saya, panutan saya, kalah dengan perangnya melawan sebuah penyakit ganas.

Oh, tentu saja saya syok - bukan main bahkan.

Padahal, baru dua hari lalu saya menjenguk beliau di sebuah ruang ICU. Saya melihat nanar rambut beliau yang makin lama makin menipis, bibirnya yang memucat mendekati putih tulang. Berbagai selang melekat pada kulit beliau.

Saya percaya, saya percaya, bahwa setidaknya beliau bisa melihat saya menjadi dokter, setidaknya saya masuk sekolah menengah pertama pun cukup. Tapi tidak, saya kehilangan seseorang yang saya ingin sekali melihat saya bahagia, karena saya ingin beliau bahagia karena saya.

Ketika saya melihat wajahnya di perbaringan terakhir, lutut saya lemas. Lidah kelu. Gravitasi mendadak menjadi sepuluh, seratus, bahkan seribu kali lebih kuat. Saya duduk terjatuh. Kepala saya pening.

Sosok itu tidak akan lagi memanggil saya ramah. Sosoknya tidak akan lagi memeluk saya dikala saya ada di sampingnya.

Ketika saya memandikan sosok beliau, ketika saya menyentuh kulit beliau setelah sekian lamanya, saya tidak bisa merasakan hangat beliau. Kulit saya seakan memegang besi. Semua orang di sekeliling saya menangis. Saya melihat sosok tegar kakak saya menangis.

Tidak, saya tidak bisa menahan air mata.

Pikiran saya kala itu berkelana jauh. Masa kecil, masa kehangatan, semuanya. Saya menganggap, bahwa saya tidak akan merasakan kesedihan akan kehilangan seseorang. Saya kira, saya akan melihat senyuman beliau sampai saya di saat ini. Saya sudah kuliah, saya ingin membanggakan beliau.

SAYA TERLALU NAIF, DAN SAYA MENGALAMI DERITA KENAIFAN SAYA.

...Intinya, hidup mati. Rahasia terbesar. Sensitif. Percaya atau tidak, saya harus menahan air mata saya untuk jatuh saat ini. Sampai sekarang, saya masih merasakan trauma ketika mendengar kata ICU, kanker, dan saya merasa merinding ketika memasuki kawasan rumah sakit.

Kenangan itu, semuanya kembali merasuki saya.

Hidup dan mati - betapa kuatnya mereka dalam mengubah seseorang.

Kehilangan.

Sabtu, 08 Oktober 2016

Nasihat

Suatu kali, saya mengeluh pada kakak saya.

"Mas, tinta hitam printernya habis ya? Kok enggak diisi, sih? Aku kan mau nge-copy bukti pembayaran."

Kakak saya hanya menatap saya sejenak, lalu ia teruskan makannya yang tertunda. Jelas, raut muka saya makin suntuk. Sebelum saya kembali protes, kakak saya mengatakan, "Kamu tuh ya, ada dua printer kan di kamarku. Pakelah satu printer yang bisa buat nge-scan terus scan bukti pembayarannya. Nah, print deh scanannya pake printer satunya lagi - yang ada tintanya. Edit jadi hitam putih. Beres kan?"

Saya hanya bisa melongo. Kakak saya kembali menatap saya, lalu tersenyum mengejek. "Kamu tuh ya, udah mahasiswa. Pola pikirmu tuh harus kreatif. Kalau terus berpikir inside the box, apa bedanya kamu sama pembantu? Otakmu -" Ia mengetuk kepalanya. "- dipake buat mikir. Ngerti?"

Memang menyebalkan, tapi terima kasih nasihatnya, mas.




Oh iya, saya mohon cepat selesaikan tesis mas. Mas kan sudah mahasiswa S2, kok masih merepotkan mama?

(Senyum mengejek)

Jumat, 07 Oktober 2016

untitled

Pikiranku meracau. Aku menggila.

Hentikan, kubilang hentikan. Olokanmu. Gunjinganmu.

Potong lidahmu, kumohon.

Pergi kau, setan! Biarkan jiwaku hidup secara semestinya.

Diam, diam, DIAM.

Apa perlu, kupotong telingaku? Kusirami gendang telingaku dengan cairan sulfat?

Perlu, kubakar otakku dalam api terpanas?


Pergi, menghilang - entahlah.




Aku hanya ingin tentram. Jiwaku hanya ingin kesempurnaan.

Senin, 03 Oktober 2016

Besok

Halo, bersama saya lagi di entri baru blog saya yang sangat tidak jelas ini. Seharusnya saya tidur sekarang, tapi pernah dengar kondisi dimana orang menjadi tidak mengantuk lagi setelah sampai di tempat yang nyaman? Kalau tidak, biar saya beritahu - saya termasuk orang yang seperti itu.

Hari ini adalah hari Senin, tanggal 3 Oktober tahun 2016. Besok adalah tanggal 4 Oktober 2016.

Jujur, saya ingin pulang kembali ke Jakarta, walaupun hanya sehari.

Pada tanggal yang sama tahun 1959, seorang bayi berjenis kelamin perempuan lahir dari pasangan suami-istri yang bercukupan. Bayi ini hidup dengan penuh pengalaman yang luar biasa. Dididik oleh ibu dengan profesi bidan, bayi ini tumbuh menjadi seorang gadis yang diharapkan dapat menjadi wanita yang berpendidikan tinggi.

Pada tahun ini, wanita ini akan merayakan hidupnya yang telah berlangsung selama 57 tahun. Beliau kini memiliki tiga anak yang sangat disayanginya - seorang lelaki dengan kepandaian yang luar biasa, seorang lelaki dengan kesabaran dan kedewasaan yang mengetarkan jiwa, dan seorang gadis yang kini belajar untuk mandiri.

Ya, wanita itu adalah ibu saya.

Saya merasa sedih karena saya tidak bisa bersama dengan beliau di hari yang menggembirakan di esok hari. Saya tidak mengerti perasaan ibu saya - apakah ibu saya merindukan saya dan menginginkan saya bersamanya pada esok hari, tapi yang saya ketahui adalah saya rindu ibu saya dan saya ingin memeluk ibu saya sembari mengucapkan selamat ulang tahun.

Sayang, saya tidak bisa teleportasi.

Baiklah, demikian kegalauan saya. Dalam waktu kurang lebih enam jam lagi, saya ingin terbangun untuk mengirimkan setidaknya sebuah pesan suara untuk ibu saya. Mungkin sebuah lantunan nada bisa membuat pagi beliau menjadi lebih cerah? Saya harap begitu.

Saya harap sisa hari Anda berjalan dengan menyenangkan. Smiley face.

Tertanda,
Saya yang mengetik entri ini.


Sabtu, 01 Oktober 2016

Simak

Tolong, buka baik-baik telingamu.

Kau tahu, gadis itu - iya, dia yang pendiam. Ia punya banyak hal yang ingin ia bicarakan. Imajinasinya, masa lalunya, asanya, bahkan tentang dirinya sekarang. Penderitaannya yang selalu tidak dianggap.

Tolong, berhentilah bicaramu untuk sementara.

Gadis itu senang sekali mendengar kisahmu, tapi ia juga punya opini, saran, dan topik yang lebih penting dari keluhanmu. Komunikasi itu dua arah, dan dia bukan hanya patung yang hanya diam saja.

Tolong, letakkan ponselmu sejenak.

Kau tahu, gadis itu sengaja meletakkan ponselnya di dalam tas - ia peduli, ia ingin mendengarkan kisahmu. Ia ada untukmu, seharusnya kau juga begitu.

Tolong, anggap dia ada. Anggap dia sebagai manusia.

Berikan rasa pedulimu.

Perhatikan muka lembamnya.

Perhatikan mata kosongnya.






Sebelum sebilah pisau mengecup manis nadinya.