Jumat, 29 Juli 2016

Masa Lalu

Waktu dulu saya kecil, saya ingin menjadi polisi.

Kenapa polisi? Entahlah, mungkin di benak saya tergambar bahwa polisi itu gagah dan tampak tidak terkalahkan. Dan mungkin, saya lebih berfokus ke pistol yang akan saya miliki ketimbang dengan bahaya yang akan saya hadapi ketika benar menjadi seorang polisi.

Nenek saya adalah seorang bidan.

Metabolisme saya ketika kecil bukanlah yang terbaik. Kecapekan, pilek. Tidur malam, demam. Kehujanan, radang. Dulu ibu saya sibuk - studi S2 dan berkarier sebagai dosen, jadi saya lebih sering dirawat nenek saya ketika sakit. Alhasil, saya sering berpetualang di klinik beliau yang waktu itu berada tepat di samping rumahnya.

Jujur saja, dulu saya takut. Lorong penghubung antara rumah nenek dengan klinik selalu gelap. Di sepanjang lorong banyak sekali tirai putih yang menutupi tempat tidur pasien. Ketika melewati lorong gelap tersebut, saya langsung berhadapan dengan ruang dokter anak. Dulu, saya akan langsung menjauh melihat penampakan jarum suntik.

Saya ingin menjadi polisi dulu, bukannya dokter.

Waktu itu saya datang berkunjung ke rumah nenek bersama ibu. Setelah bersalaman dengan kakek, saya langsung pergi ke klinik mencari nenek yang saat itu tidak terlihat. Kali itu saya tidak langsung berlari melintasi lorong. Sebuah ruangan di sudutnya menyala. Ketika saya intip, ternyata bukan nenek saya yang berada di dalamnya, melainkan seorang suster. Dan ia tengah mengendong bayi.

"Saya mau mandiin bayinya, mbak mau ngebantuin?" tanya suster itu pada saya. Fokus mata saya beralih pada wajah sang suster yang tersenyum pada saya. Malu-malu, saya melangkah maju. Dengan perlahan, ia merebahkan badan mungil itu kedalam bak mandi kecil berisi air hangat. Satu tangan menjaga posisi bayi tersebut, satu lagi membawa air hangat untuk membasahi badan bayinya. Perlahan saya tiru gerakan sang suster. Jemari saya bersentuhan dengan kulit bayi tersebut.

Ketika saya melewati ruang dokter anak, saya mendapati nenek saya tengah berbicara dengan keluarga pasien. Senyum beliau merekah ketika melihat saya. Ketika saya bersalaman dengan nenek saya, beliau berkata, "Ini cucu saya."

Saya melihat pasien yang tengah berbaring di tempat tidur. Mukanya lelah, namun ia tetap tersenyum. Semuanya tersenyum.

Nenekku membawa banyak senyuman ke orang-orang di sekelilingnya.

"Ma, aku ingin menjadi dokter kandungan!"

Rabu, 27 Juli 2016

Cerita Hidup

Saya berumur 18 tahun. Saya lahir pada tahun 1998. Tahun ini saya mulai berkuliah di sebuah universitas di Jawa Tengah, Saya merupakan orang yang terbuang dari rombongan saya - mayoritas mereka kuliah di Jakarta atau Bandung, saya di Semarang. Tapi tenang, saya tidak sedih. Setidaknya orang yang sedang nyengir disamping saya ini berkuliah dekat dengan saya, di Solo.

Banyak orang bertanya, kenapa sekolah harus jauh-jauh dari rumah sendiri? Kenapa gak di Jakarta. Well, gini, SNMPTN dan SBMPTN itu gak semudah yang orang pikir. Lihat aja soal TPA dan Matematika Dasar SBMPTN tahun ini. Siapa yang senang dan menangis bahagia saat melihat mereka? Yang pasti bukan saya orangnya. Dan orang disebelah saya pun bukan orangnya. Jika Anda adalah orangnya, tolong tulis alamat tinggal Anda. Saya punya pisau tajam di dapur yang siap bertemu dengan senyum Anda.

Bulan ini saya akan berangkat ke Semarang. Merantau. Nge-kost. Sedih. Kere.

Doakan saya dan orang yang disebelah saya ini. Dan saya akan mengingat untuk mendoakan Anda yang juga merantau.

Oke, itu saja yang bisa saya ketik. Semoga hari Anda menyenangkan.

Tertanda,
Saya yang mengetik entri ini.

meh 1

Halo, ini adalah pertama kalinya saya membuka blog -- lebih tepatnya buat blog lagi.
Jadi, kalian semua tahulah dulu kita (ya, kita) pernah alay. Tahun 2011 silam, saya punya blog. Dan saat itu saya merupakan contoh alay yang sangat akurat. Saya tidak mau membuka halaman memalukan itu, jadi saya buat blog baru. Yeay.

So, what will I do with this new blog that I have? Well, saya gak tahu. Tapi, karena saya suka menulis sesuatu yang super tidak jelas, mungkin akan saya publish beberapa cerita aneh saya disini. Mari kita pertegas kalimat diatas pada kata 'mungkin'.

Senang bertemu dengan kalian semua. Jangan nantikan saya.

Tertanda,
Saya yang mengetik entri ini.