Rabu, 12 Juni 2019

sebuah surat

teruntuk kalian para srikandi cilik,

anggap saja sapaanku sebagai doa, bukan pemberat kalian di masa depan. kalian srikandi; dapat bertahan dalam ruang sempit selama kurang lebih 180 hari. kuharap kalian akur di dalam sana.

maafkan aku salah menafsir wujud kalian. yang kujumpai dalam bunga tidurku mungkin hanya pikir bualku saja. tapi setelah kuingat, ternyata yang kulihat memang paras berambut panjang. mungkin itulah pertanda yang kulewatkan?

memang sedikit tidak jelas, tapi izinkan aku berterima kasih telah hadir di keluarga yang tidak sempurna ini. sampai ketemu saat september tiba!

salam hangat, calon pengganggu kalian nomor satu di dunia

Jumat, 14 September 2018

renungan

Seperti setiap malam menjelang kubermimpi, pikiranku meracau. Meracau mengenai apa yang telah kulakukan selama ini.

Namun, yang paling kupikirkan saat ini adalah nyanyianku--karena semua ini akan berakhir cepat atau lambat.

Nyanyianku membawaku mengembara. 
Karena suaraku, aku berhimpun.
Karena suaraku, aku berkenalan.
Karena suaraku, aku mengenal cinta yang selama ini aku ingkari.
Karena suaraku, aku jatuh dan lelah.
Karena suaraku, aku kehilangan koneksi.
Karena suaraku, aku hilang arah.
Karena suaraku, aku membenci nyanyianku.

Namun, karena semua ini akan berakhir, aku juga berpikir bahwa aku cinta. Aku tidak ingin semua ini cepat berakhir. Apa hidupku tanpa nyanyianku?

Dan sesaat, aku menyadari bahwa diriku ini hipokrit.

Rabu, 21 Maret 2018

jatuh

Ketika aku lelah dan mengeluh, apa yang mereka lakukan?

Menatapku tidak suka,

Mengkritikku,

seakan aku tidak sama seperti mereka.

"Kalau tidak, apakah harus iya?"

Apakah itu hanya berlaku untukmu? Sebenarnya, apakah aku tidak sama denganmu?

Aku butuh pengertian, tapi tidak ada yang mengerti.





Aku menyesal telah peduli. Kenapa aku peduli?








Peduli hanya membuatmu makin terinjak, bukan?

Selasa, 23 Januari 2018

resolusi

Rabu, 24 Januari 2018 - sedikit telat untuk resolusi, but damn it all to the T, am I right?

Baiklah, resolusi. Percayakah bahwa akan kutulis, resolusiku adalah untuk melupakanmu?

Yep.

Melupakanmu. Resolusiku.

Empat belas tahun ini, aku akan akhiri di tahun baru yang bersih ini.

















Hey, resolusi biasanya muluk, tapi setidaknya ada niatan.

Kamis, 12 Oktober 2017

dear you

in this crowded, little world we live in
whenever you feel suffocated and can't breath
i always (at least i tried) lend my ears for you


please, be happy

Sabtu, 03 Juni 2017

analogi

Ketika aku mengingatmu, aku teringat matahari. Dan jika aku pandangi diriku pada permukaan cermin, aku teringat bunga matahari. Sebuah analogi memang, tapi menurutku kedua hal itu sangat mencerminkan aku padamu.

Bunga matahari, dinamakan begitu karena kesetiaannya pada sang surya. Bunga ini selalu menghadap matahari, tidak peduli jauh dekatnya. Untuk bunga matahari, sang surya hanyalah satu-satunya.

Namun, untuk sang surya, bunga matahari ini hanyalah 'salah satu diantara yang lainnya'.

Jumat, 21 April 2017

sesal?

Ketika kau mengenali seseorang selama bertahun-tahun, tanpa kau sadari kau dapat mengerti baik orang itu. Tanpa kata diantara kalian, seakan dengan keberadaannya saja kau sudah mengerti.

Aku memiliki seseorang yang kukenali baik semenjak kecil, dan seseorang itulah yang hatiku putuskan untuk menjadi kisah kasih pertamaku. Dan hal ini terjadi ketika aku masih naif sekali.

Yang kukira cinta monyet ini, ternyata tidak pernah hilang.

Bertahun-tahun aku mengenalnya, dan aku tahu ia selalu mencari. Tangannya selalu menggenggam tangan lainnya, namun bukan tanganku. Namun, kami tetap dekat (ya, jika yang kau bilang aksi mengejar dan berkelahi itu dekat) dan ia selalu menceritakan asmaranya padaku.

Ia begini, ia begitu. Namun, sungguh, aku mengerti. Tanpa ia ceritakan pun aku mengerti.

Karena aku mengenalnya, tidak seperti yang lain.

Suatu hari, ia berhenti mencari, dan kami makin dekat. Aku, yang mengira ia tidak bisa melupakan gadisnya, terus membujuknya untuk kembali. Melihat ia muram bukanlah kesenanganku. Bujuk dan bujuk, kiasan ceria aku curahkan padanya -- walau pun sesungguhnya aku ingin ia melihatku.

Perlahan ia kembali tegar. Sosoknya yang cemerlang kembali. Aku yang mengertinya pun mengerti, ia telah menemukan labuhan selanjutnya.

Hingga suatu hari, ia bertanya padaku, sesuatu yang tidak kukira keluar dari mulutnya.

"Lo tertarik gak sih buat pacaran?"

Dan, aku yang mengerti tentangnya, berkata tidak - karena aku mengerti.






Semenjak saat itu, aku mulai tidak mengenal siapa ia sebenarnya.