Kulihat semangat hidupmu memudar - kuhanya bisa terdiam.
Guci yang kau lempar membentur dinding tepat di samping kepalaku. Tatapku nanar melihat aksimu liar - sosok terkasihku hilang.
Ya, jiwanya hilang seiring jiwaku yang pergi meninggalkan tubuh mayaku.
Aku telah mati (kupertegas itu) dan aku terperangkap di dunia ini. Kenapa, Tuhan? Kau ingin aku pergi bersama pria tersayangku? Atau, Kau ingin aku menderita - melihat ia menggila atas kehilangan diriku?
"Lihat aku, Aadhira. Aku di depanmu." Suaraku parau - lelah berteriak padanya untuk menyadariku. "Adhisti masih disini, Adhisti masih bersamamu." Air mata segar mengalir di pipiku - menutupi jejak leluhurnya yang telah mengering.
Namun, sang rembulan tidak ada apa-apanya tanpa sang mentari.